Rabu, 03 Juni 2015

Pemimpin Partai

    Pemimpin adalah pemimpin sebuah negara. Dimana semakin bagus pemimpinnya, maka dapat dijamin bahwa negara itu mendapatkan keamanan dan kesejahteraan. Dengan adanya pemimpin yang baik dan tegas, maka dapat dikatakan bahwa negara ini bisa mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan.
   Tetapi terlepas dari itu semua, tidak ada yang namanya pemimpin yang baik dizaman sekarang, haha.. Bahkan saya berani terang-terangan bahwa tidak ada namanya pemimpin yang berlandaskan untuk rakyat demi rakyat dan dari rakyat lagi.. Semua adalah pemimpin yang berasal dari golongan, partai, dan terkadang membawa-bawa agama juga. Tidak ada lagi yang namanya pemimpin yang baik dan tegas lagi sekarang, semua hanyalah pemimpin yang merupakan budak dari Golongannya sendiri.
    Saya speak the truth aja. Pemimpin sekarang bukan lagi pemimpin yang "mewakili rakyat", yang ada hanyalah pemimpin dari partainya saja. Sehingga tidak heran kalau seorang pemimpin di negara kita mengambil keputusannya menunggu waktu dahulu, tunggu sampe kita demo dahulu.. Pemimpin kita lebih mendahulukan kepentingannya daripada rakyatnya..
    Ini adalah hal yang wajar dalam sistem pemerintahan kita, saya tidak menyalahkan siapapun, dan tidak memihak pada siapapun juga. Saya hanyalah manusia netral yang menyuarakan kebenaran. Dan dari semua kenyataan yang ada, inilah kenyataan yang paling buruk yang saya lihat. Seharusnya pemimpin adalah pembimbing rakyatnya, dan rela berkorban demi rakyatnya. Bukannya demi golongan dan partainya saja... banyak rakyat yang masih melarat, dan semakin bingung dengan realita kehidupan. Pemimpin seharusnya membimbing mereka, dan bertindak tegas atas segala-galanya. Bukannya berdiam diri dan takut mengambil keputusan..

Senin, 01 Juni 2015

Berkarya dan Bekerja

     Banyak hal yang menyimpang dari cara orang bekerja dizaman sekarang. Penyimpangan yang saya maksud adalah kenyataan bagaimana orang memandang perkerjaan dizaman sekarang, dimana sekarang orang bekerja lebih mendahulukan hasil daripada proses menggapainya. Mungkin terdengar sedikit aneh, tetapi masalah kecil seperti ini sering kita pikirkan dikeseharian kita, " Mana lebih
pelitasamudra.wordpress.com

dahulu proses atau hasil, mana lebih dahulu pekerjaan yang sesuai dengan kita atau mencari pekerjaan yang bergaji banyak saja? ". Pertanyaan ini terkadang sangat banyak kita pertanyakan semasih kita muda. Semasih muda, kita merasa bisa dan sedikit keras kepala, terkadang kita membentak orang tua kita karena terlalu memikirkan duit dalam bekerja bukannya bekerja dulu sekuat tenaga baru kemudian memikirkan duit.

     Nah problem yang banyak saya liat adalah seperti itu.., terkadang orang terlalu memikirkan duit daripada pekerjaan yang mereka sukai. Mereka rela bekerja sampai stress-stress demi mendapatkan duit yang banyak. Tentu saja bukan tanpa alasan, ini dikarenakan uang dizaman sekarang adalah penentu segalanya, dimana uang bisa membeli apapun dizaman sekarang, baik mobil sampai pasangan hidup-pun bisa dibeli sekarang, asal kita punya duit.


     Tentu saja ini sangat menyimpang dari hakikat kita bekerja yang sebenarnya. Bekerja seharusnya seperti air mengalir, dimana kita bekerja sesuai keinginan kita, sifat alami kita, atau yang lebih spesifik lagi, sesuai bakat yang kita punyai, bukannya bekerja untuk mendapatkan hasil terlebih dahulu, namun bekerja seperti ini akan mengajarkan kita tentang pentingnya sebuah proses dalam bekerja. Proses ini sangat penting untuk perkembangan jiwa kita, dan menumbuhkan cinta dalam pekerjaan kita sehari-hari. Sedangkan jikalau kita bekerja hanya untuk mendapatkan uang semata, maka kita akan melupakan proses yang penting ini, kita malah berfikir untuk berusaha meraih uang ini, kita menjadi egois dan jika terus berlanjut kita akan berusaha untuk melakukan kecurangan. Sehingga tidak jarang yang kita lihat sekarang adalah fenomena korupsi dimana-mana.


      Saya tidak mau mengatakan bahwa pekerjaanmu jelek, atau terkadang bisa saja kalian menganggapku orang yang anti-duit, dll. Tetapi aku hanya mengatakan bahwa kita perlu keseimbangan dalam berkarya, kita juga perlu menumbuhkan cinta dalam pekerjaan kita, bukannya bekerja dengan terpaksa dan bertujuan untuk mendapatkan hasil. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bekerja-lah seperti

pendoasion.wordpress.com
air mengalir, biarkan karyamu mengalir tanpa hambatan, kalau gagal terus mengalir, kalau sukses tetap juga mengalir. Itulah hakikat bekerja yang sesungguhnya. Lupakan hasil, dan biarkanlah ia mengalir layaknya derasnya aliran sungai yang besar, kalau kalian kelaparan, terimalah, kalau kalian mendapatkan sanjungan, rendah hatilah. Biarkanlah ia mengalir, biarkan kreatifitas ini terus mengalir, biarkanlah proses itu terus terjadi dan mengalir tanpa henti, biarkan ia mendewasakanmu atau membuatmu menjadi anak kecil kembali. 


    Kita perlu keseimbangan ini, karena setelah saya lihat-lihat bagaimana orang bekerja, yang saya lihat hanyalah orang yang stress dan terpaksa dalam bekerja. Just Follow Your Passion, jalanilah seperti air mengalir, ikutilah kata hatimu, seperti yang sekarang saya mengetik kata-kata ini. Tanpa ada paksaan atau tersiksa menjalaninya, mungkin tulisan ini jelek atau bagus, terserahlah kata orang. Aku tetap menulis kata-kata ini, tanpa paksaan dan penuh dengan cinta yang tulus dari dalam hati.

Minggu, 31 Mei 2015

Kehancuran Moral

   Ada kenyataan kehidupan yang selalu pahit jika kulihat dizaman sekarang, ketika aku melihatnya yang kulihat selalu kepedihan hati, tidak ada lagi kesenangan atau kebahagiaan yang bisa kupaksakan untuk keluar. Kenyataan kehidupan yang satu ini selalu membuat diriku pilu dan seketika langsung meneteskan air mata ketika melihatnya secara langsung.

    Pernah aku jalan-jalan bersama teman-temanku sekelas, kami berencana makan di Mall besar setelah bermain-main di pantai. Dan selama di perjalanan itu, ketika kami bertemu lampu merah didepan kami, aku melihat banyak sekali pengemis meminta-minta, yang membuatku sedih adalah pengemis itu merupakan anak kecil. Mereka meminta-minta dengan tangan mungilnya, ditambah dengan ekpresi memelas mereka yang membuatku sedih melihatnya. Pernah juga aku jalan-jalan ke jogja bersama temen-temanku, Kami berhenti ditempat yang sama, di lampu merah. Dan tiba-tiba datang seorang bencong (tepatnya cowok yang memakai pakaian cewek) mereka memelas-melas mobil dan bernyanyi dengan sebuah radio ditangannya dan berjoged layaknya wanita. Teman-temanku jijik melihatnya, tetapi aku punya pandangan lain ketika melihatnya. Aku prihatin melihat mereka, mereka mau mempermalukan dirinya demi uang, menjual harga dirinya demi uang untuk makan, uang untuk tidur, dll.

     Aku pernah curhat dengan temanku perihal hal ini, dan ia berkata, " Hidup memang keras Wis, sekarang yang punya duitlah yang berkuasa didunia ini, bukan lagi orang yang baik, orang yang bijak atau orang yang suci sekalipun.. ",


www.digaleri.com

    Aku ingat sekali perkataan itu, " Hidup itu keras ", " Sekarang yang punya duitlah yang berkuasa didunia ini". Aku setuju dengan pendapat temanku. Uanglah yang berkuasa sekarang, bukanlah manusia!, bahkan manusia rela menjual segala-galanya dalam kepribadian mereka demi uang.. Aku merasa heran sekarang ketika memikirkannya. Aku pernah membaca sebuah buku sejarah, tepatnya buku tentang kerajaan zaman dahulu, dimana aku pernah membaca dan intinya kira-kira begini, " Zaman dahulu tidak ada namanya uang, masih ada barter-barteran, tidak ada kemiskinan atau keserakahan. Walaupun terkadang ada keserakahan tetapi itupun dari kalangan pemerintah. Sedangkan kami disini sebagai rakyat hidup sederhana dan welas-asih. Saling bantu-membantu. Jika ada yang kesusahan kami rela memberikannya harta, dan suasanapun kembali makmur. Semiskin-miskinnya orang mereka rela tidak makan, asal harga dirinya tetap terjaga. Kami rela mati demi kehormatan kami, walaupun kami dilanda kemiskinan, kelaparan, bahkan kematian sekalipun. Bagi kami rasa kekeluargaan dan kehormatan adalah yang terutama ".

     Jaman dahulu orang lebih mengutamakan moral daripada harta atau uang. Sedangkan sekarang orang lebih mengutamakan uang dahulu baru kemudian moral. Inilah kemerosotan moral yang kulihat dizaman sekarang. Orang semakin gila uang, mereka bahkan melakukan kecurangan untuk mencapainya seperti korupsi, dll. Orang bekerja dijaman sekarang-pun demi uang, bukannya demi tuhan atau negara. Lahan tempat kita tinggal dikenai pajak, dan kalau kita tidak mempunyai uang kita akan meninggal.

     Ada disatu pihak, dimana pihak itu terpaksa memendam idealismenya dan mencari uang dahulu, baru kemudian setelah memiliki uang kemudian memperjuangkan apa yang menjadi idealismenya. Disatu pihak, ada orang yang memperjuangkan idealismenya dari awal dan akhirnya tersiksa karena terlalu keras pada hidup.





    Sekarang adalah zaman kebebasan, kata orang. Sedangkan hutan semakin rusak, manusia semakin sempit pemikirannya, dan moral semakin hilang keberadaannya. Sedangkan seakan-akan orang tidak peduli dengan hal ini. Mereka hanya berdiam diri saja, sedangkan yang lain dengan serius membicarakan hal ini tetapi kemudian ditertawakan oleh orang lain. Banyak orang yang serius berbicara, tetapi kemudian dibalikan dengan situasi yang lucu. Ada orang yang tetap bertahan dengan idealismenya, ada juga yang tidak. Terkadang sebagai orang idealisme seperti aku ini, harus menarik napas dalam-dalam terus menerus, harus tetap bersabar dan tetap teguh. Aku harus tetap bertahan dengan keputusanku, walaupun terkadang sendirian. Tetapi biarlah, aku mempunyai sebuah kata yang selalu menjadi penopang hidup tertinggiku, " Semua orang hidup, tetapi tidak semua orang benar-benar hidup seperti yang ia inginkan. ". Dan berbahagialah orang yang mengikuti suara hatinya dan berbahagia. Hidup hanya sekali, tetapi kalau kamu menikmatinya, satu saja cukup..

Sabtu, 30 Mei 2015

Baliku

   Bali adalah tempat terindah didunia, terkenal dengan budayanya yang sudah terdengar sampai seluruh plosok dunia. Banyak yang mengatakan bahwa Bali adalah pulau tempat dewa bersinggah datang, banyak yang mengatakan bahwa Bali adalah surga dunia. Tetapi seperti layaknya roda yang terus berputar, terkadang kita berada diatas terkadang kita bisa berada dibawah. Terkadang Bali bisa menjadi sangat indah, terkadang Bali bisa berubah menjadi sangat rusak.

www.lovethesepics.com

   Pernah disuatu hari, dikala aku jalan-jalan bersama seorang Bule disaat aku ke Jogjakarta, aku bertanya, " Kamu tau, kalau Bali itu berada di Indonesia? ", Dia jawab " Awalnya saya tidak tau, saya kira malahan Indonesia itu bagian dari Bali, hahaah ". Dari sana aku tersenyum saja, karena aku bangga dengan tempat tinggalku, Bali yang terkenal dan dikagumi wisatawan luar negeri, bahkan Bulepun lebih mengenal Bali daripada Indonesia itu sendiri. Akupun menarik kesimpulan bahwa tempat tinggalku sangatlah Indah.
  Cerita belum selesai, setelah sekian lama berdiskusi, Bule ini berencana Ke Bali, tetapi ia merasa resah dengan kondisi Bali sekarang yang serba macet dan sudah tidak nyaman lagi. Bule itu berdiskusi dengan teman seperjalananku, diskusinya cukup berat, sedangkan aku cuma menyimak saja. Kira-kira seperti ini:
   " Saya mau ke Bali kira-kira minggu depan, tetapi saya masih ragu-ragu dikarenakan saya bingung ke Bali, saya dengar-dengar Bali sekarang sudah berisikan Hotel-hotel yang berdiri banyak, dan suasananya sudah tidak asli lagi ", Kata Bule yang ingin ke Bali
    " Ya, kira-kira seperti itu, Bali yang sekarang sudah mulai gak enak, udah mulai macet, tetapi masih ada bagian dari Bali yang nyaman kok ", kata teman seperjalananku.
    Dan situasi semakin panas, temanku banyak berdiskusi dengan si Bule, tentang Bali yang sekarang, dari perbedaan yang dulu dengan sekarang. Dan berlanjut..
    " Ah, saya tidak mau lagi ke Bali sepertinnya, saya ingat dulu tahun 2004, pertama kali saya disana sudah ada hotel, tetapi itu masih sedikit, itupun sudah sumpek sekali, apalagi ditambah kenyataan sekarang. Bisa-bisa saya sesak napas di Bali ", Lanjut Sang Bule
     Pembicaraanpun berlanjut, tetapi yang kudengar hanyalah keluhan Si Bule, ia merasa resah dengan keadaan Bali yang sekarang. Akupun hanya menyimak saja, karena topiknya terlalu berat untuk ku balas. Tetapi sekarang aku baru mengerti maksud pembicaraanya, sebenarnya sih Bali yang kurasakan memang sudah dari dulu kurasa berbeda dari yang dulu, sekarang Bali semakin panas dan macet. Banyak pendatang yang silih berganti ke Bali untuk mencari pekerjaan. Bukannya melestarikan Budaya Bali, mereka malah merusak Bali dengan sikap mereka.
    Bali yang sekarang semakin panas, macet, semakin mengikuti budaya barat, semakin lupa dengan budayanya, Bali semakin ribut dan mulai kehilangan ciri khasnya. Bali bukan lagi pulau yang istimewah, bali hanyalah pulau istimewah yang menghilang dari peradaban manusia..

Minggu, 26 April 2015

Masa SMA

  Hari ini aku melewati hari yang cukup berat bagiku, walaupun hari ini adalah hari libur, tetapi liburan kali ini sangatlah menyiksaku, karena semua serasa membosankan, tidak ada teman yang bisa diajak main karena sibuk memikirkan kuliah, ditambah karena aku harus melepas keberadaanku dari masa putih abu-abu yang sangat kental dalam jiwaku. Ah, entahlah serasa semua sangat risih bagiku, serasa aku tidak merasakan kehadiran teman, seakan-akan aku sendiri didunia ini dan mereka yang berada dimasa lalu kembali mengisi relung hatiku.


   Masa Sma-ku cenderung luar biasa, menurut sudut pandangku, apa mungkin aku saja yang merakannya? atau ada orang lain yang sama rasanya seperti aku? Tetapi bagiku semua kenangan masa putih-abuabu ini akan sangat sulit untuk kulupakan, entah mengapa aku serasa sangat negatif dalam menanggapi masa depan. Aku jadi teringat perkataannya Soe Hok Gie. Mungkin ia juga pernah merasakan hal yang sama seperti yang kualami, dan ia memilih untuk berfikir realistis dan menghadapi masa depan.
   Ya, mungkin aku akan sama seperti Soe Hok Gie, aku akan tetap meratapi masa depan, walaupun sangat perih untuk melepaskan kenangan indah masa SMA ini, tetapi kusadari bahwa " life to death, be death ", alias kita pasti mati, manusia bebas memilih pilihan hidupnya, dengan syarat ia harus bertanggung jawab, dan seperti itulah diriku sekarang, aku akan menengakan keadilan yang sekarang semakin sirna dari kehidupan masyarakat,

Kamis, 11 Desember 2014

Sebuah Awalan

    Saya sering bertanya sendiri kepada diri saya sendiri, selama saya semasih smp dan sma, bagaimana sikap saya selama itu, saya sering mengait-ngaitkan perkara yang terjadi selama kehidupan saya baik itu pahit atau manisnya kehidupan. Dari masa lalu saya sampai masa kini saya menulis. Dan ketika semuanya sudah dikaitkan pasti hal yang negatif-lah yang pertama saya judge,, dan ketika itu terjadi, selalu ada sebuah pertanyaan yang muncul, dan kebanyakan seperti ini: "apa yang telah kulakukan sebenarnya?", "Mengapa aku tak begini sebelumnya", " Mengapa aku gengsian?"

   Banyak pertanyaannya lagi, yang kalau orang bilang "wajar" bagi orang yang sedang mengalami kegagalan. Bagiku, aku juga setuju dengan pendapat ini, sekarang aku masih muda, tepatnya masih labil dan remaja. Terkadang apa yang kuperbuat tidak konsisten, tidak seimbang. Apalagi dengan kepribadianku sebagai zodiak leo, yang kebanyakan gak suka dengan rutinitas. Ditambah lagi kalo udah situasi tidak seperti yang kuinginkan, pasti kumarah pada diri sendiri.

    Nah, seperti itulah sisi hidupku, selalu tidak konsisten, dan pada akhirnya aku menganggap negatif diriku, entah anak muda lainnya merasakan hal yang sama sepertiku. Aku tidak tahu-menahu, tetapi rasa ini seperti sangat sulit untuk ditaklukan. Terkadang aku terpaksa tertidur, untuk melupakan semuanya, atau bermain game agar semua permasalahan hilang. Aku tau ini adalah seperti kabur dari sebuah permasalahan, bukannya menyelesaikan permasalahan. Tapi, inilah hidupku, hari-hariku selalu berputar kearah yang sama, mejudge negatif diriku.
    Apakah kalian juga pernah merasakannya? seakan-akan dunia ini tidak memberikan apa yang kita harapkan?

    Sampai hari ini aku menulis ini, ini sebenarnya adalah sesuatu yang sulit, karena aku harus membuka lembaran yang baru, dan ketika aku mengingat masa laluku, aku seperti membuka luka yang pernah tertutup sebelumnya, ya perihnya lumayan. Tetapi juga menyembuhkanku, karena dengan menulis ini seakan-akan aku memaafkan permasalahanku. Berdamai dengannya. Ya setidaknya, tidak lari dari masalah seperti yang kurasakan. Dengan menulis ini, aku dapat membagi permasalahanku kepada semua orang, dan aku menyadari ini bisa menjadi sebuah inspirasi bagi semua orang. Walaupun harus membuka luka yang pernah tertutup sebelumnya, tetapi inilah yang akan kulakukan untuk hidupku. Setidaknya membuka lembaran yang baru, dan memulai hidup yang lebih bahagia dan menyenangkan

Have fun :)